Pasaman Barat, Wartapatroli.com – Kabar duka menyelimuti dunia seni dan musik Kabupaten Pasaman Barat.
Guslian, penyanyi slow rock Melayu asal Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, berpulang ke Rahmatullah pada Kamis (10/9) dalam usia 49 tahun.
Guslian mengembuskan napas terakhir di RSUD Jambak, Pasaman Barat. Jenazah almarhum direncanakan dimakamkan di TPU Air Bangis pada Jumat pagi (11/9).
Kepergian Guslian meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kaum kerabat, sahabat, sesama musisi, serta masyarakat Pasaman Barat, khususnya para penikmat musik slow rock Melayu yang selama ini mengenal suara dan karya-karyanya.
Almarhum diketahui berasal dari Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, dan berdomisili di Kampung Jao Muaro, Air Bangis.
Kabar berpulangnya Guslian menyebar menjelang siang. Ucapan belasungkawa dan doa pun berdatangan dari berbagai kalangan.
Sejumlah musisi Pasaman Barat turut mengenang sosok almarhum sebagai salah seorang penyanyi yang telah memberikan warna tersendiri dalam perjalanan musik slow rock Melayu di daerah tersebut.
Tinggalkan Jejak Panjang di Dunia Musik
Nama Guslian bukanlah nama baru dalam blantika musik Melayu. Perjalanan bermusiknya telah dimulai sejak 1996, ketika ia melahirkan album perdana Sabuah Namo bersama Lastri.
Seiring perjalanan waktu, Guslian terus berkarya dan melahirkan sejumlah lagu yang dikenal oleh para pencinta musik Melayu.
Di antara karya yang pernah dibawakannya terdapat Melati Yang Pergi, Dalam Pasrah Yang Tak Rela, Debu di Atas Kaca, Akhir Cinta Luka, Mengulang Cinta, Lembaran Terakhir, dan Walau Seribu Tahun.
Lagu Mengulang Cinta bahkan kemudian dinyanyikan kembali oleh Nita Viorell dan dikenal sebagai salah satu lagu yang sebelumnya dipopulerkan oleh Guslian.
Kecintaan Guslian terhadap tanah kelahirannya juga dituangkan melalui karya berjudul Nalayan Aia Bangih, lagu yang mengangkat nama daerah Pasaman Barat dan dirilis pada 21 Maret 2023.
Menariknya, jejak kreativitas Guslian masih tercatat hingga 2026. Sejumlah rilisan yang mencantumkan namanya antara lain Sholawat Al-Ghazali, Sholawat Ibrahim, Renovasi, Bias Mentari, Mabuak Cinto, dan Bukan Dalam Mimpi.
Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa kecintaannya terhadap musik tidak pernah benar-benar padam hingga akhir perjalanan hidupnya.
“Kepergiannya Menjadi Duka Kita Bersama”
Salah seorang sahabat almarhum, Enda, menyampaikan bahwa kepergian Guslian merupakan kehilangan besar bagi banyak pihak.
Menurutnya, Guslian bukan hanya sosok yang dikenal melalui karya-karyanya, tetapi juga bagian dari perjalanan seni dan musik Pasaman Barat.
“Kepergian Guslian menjadi duka bagi keluarga, kaum kerabat, sahabat, sesama musisi dan masyarakat Pasaman Barat, khususnya para penikmat karya-karyanya,” ungkap Enda.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila semasa hidup almarhum terdapat kesalahan maupun kekhilafan, sekaligus mengajak seluruh sahabat dan masyarakat untuk mendoakan almarhum.
Kini, panggung kehidupan telah ditinggalkan. Namun suara, karya, dan kenangan yang pernah ditorehkan Guslian akan tetap hidup melalui lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya.
Selamat jalan, Guslian.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menganugerahkan husnul khatimah.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menerima kepergian almarhum.
Karya boleh berhenti, suara boleh terdiam, tetapi kenangan dan lagu-lagu Guslian akan tetap mengalun di hati para penikmatnya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (Ari)












