Agam  

Banjir Rendam Kota Padang

Padang, Wartapatroli.com – Hujan yang turun sejak Kamis (20/11) malam menghadirkan kembali “Tamu tak diundang” bagi warga Jalan DPR Ujung, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Namun, di tengah genangan air yang perlahan naik, terselip sebuah pemandangan sarat makna, sebuah kolosal kehidupan yang dimainkan oleh warga, alam, dan keteguhan hati.

Seolah panggung besar yang dibangun oleh langit kelabu, Jumat (21/11) siang itu terlihat seorang perempuan di seberang jalan basah sedang menyapu sisa banjir. Gerakannya lembut, teratur, tanpa kepanikan. Raut wajahnya pasrah, namun bukan kalah lebih seperti seorang penari yang sudah hafal ritme bencana yang kerap berulang.

Di sisi lain, Billy, salah seorang warga muncul bak narator dalam drama alam tersebut. Ia menuturkan bagaimana air mulai memasuki rumahnya sejak pagi, mengikuti irama hujan semalam.

“Daerah ini memang rawan banjir. Dulu air pernah 2 meter lebih, sekarang ‘hanya’ 1,5 meter dan sudah surut pelan-pelan,” katanya, sambil menghela napas setelah membersihkan lantai rumah yang masih basah. Suaranya berat, tetapi sarat ketegaran.

Menurut Billy, banjir kali ini adalah yang pertama setelah dua tahun daerah tersebut bebas dari genangan. Ia menduga pementasan banjir kembali terjadi karena saluran yang tak mampu menampung derasnya debit air.

Warga Gang Babussalam juga memperlihatkan harmoni kolektif dalam menghadapi musibah yang sudah mereka anggap sebagai “lakon tahunan”.

“Kalau hujan lebat sekitar empat jam, kami sudah siap-siap. Pindahkan barang, selamatkan apa yang bisa,” ujar seorang warga dengan nada datar, seolah menyampaikan dialog yang telah diucapkan ratusan kali.

Sementara itu, Sri warga lainnya menyampaikan bahwa air mulai naik justru setelah hujan selesai turun.

“Untung rumah saya dua lantai, jadi tidak banyak barang yang terendam,” ucapnya. Ia kemudian menambahkan bahwa salah satu adegan paling dramatis hari itu adalah evakuasi seorang perempuan hamil oleh petugas BPBD.

“Beliau warga baru, mungkin kaget dengan kondisi ini. Kami sebenarnya sudah terbiasa,” tuturnya sambil menutup cerita.

Di balik banjir yang datang dan pergi, warga Dadok Tunggul Hitam menampilkan sebuah kisah kolosal: tentang ketabahan, kebersamaan, dan kemampuan manusia untuk terus berdiri meski alam berkali-kali menguji.

Sebuah pertunjukan yang tak pernah mereka pilih, tetapi selalu mereka jalani dengan kepala tegak.(Bagindo/int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *