Agam  

Kebijakan HET Bupati Agam Diduga Picu Penyaluran Tak Merata

Agam, Wartapatroli.com – Sejumlah petani di Kabupaten Agam kembali dibuat resah akibat kelangkaan pupuk bersubsidi di berbagai titik penjualan. Pasca himbauan Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, agar penjualan pupuk mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET), pasokan pupuk justru semakin sulit ditemui.

Seorang pengecer di wilayah Lubuk Basung, yang enggan identitasnya dipublikasikan   mengungkapkan bahwa sejak aturan HET ditegakkan secara ketat, distributor menjadi enggan menyalurkan pupuk dalam jumlah normal.

“Kami benar-benar kesulitan mendapatkan pasokan. Distributor beralasan soal penyesuaian harga HET, tapi kami melihat ada indikasi mereka lebih mengutamakan penyaluran ke daerah yang tidak menerapkan HET karena margin keuntungannya lebih besar,” ujar salah seorang pengecer yang meminta namanya tidak dipublikasikan, saat dikonfirmasi Wartapatroli.com Sabtu (22/11)

Dugaan Permainan Distribusi Menguat

Keterangan para pengecer mengarah pada dugaan bahwa distributor memilih menjual pupuk ke wilayah yang lebih longgar dalam menerapkan HET. Akibatnya, daerah yang mematuhi aturan pemerintah justru menjadi korban kelangkaan.

Beberapa pengecer juga menyebut bahwa sejak awal November, permintaan konfirmasi ke distributor tak mendapatkan respons.

“Kami hubungi berkali-kali, tak diangkat. Pesan tak dibalas. Seakan-akan mereka sengaja menghindar,” kata seorang pengecer lainnya.

Situasi ini akhirnya merembet kepada petani. Banyak petani mengeluh karena saat memasuki masa tanam, mereka justru tak bisa memperoleh pupuk sesuai jatah.

Petani : “Kami Tidak Bisa Menunggu Tanaman Layu”

Para petani menegaskan bahwa kelangkaan pupuk bersubsidi bukan sekadar persoalan harga, tetapi persoalan hidup dan mati produksi tanaman mereka.

“Kalau pupuk tak ada, tanaman kami tidak menunggu. Bisa gagal panen. Siapa yang tanggung jawab..?” ujar salah seorang petani di Kecamatan Ampek Nagari, saat dijumpai Wartapatroli. com

Keluhan ini semakin menguatkan dugaan adanya rantai persoalan mulai dari kebijakan HET, distribusi yang tidak transparan, hingga lemahnya pengawasan pemerintah daerah.

Transparansi Distribusi Dipertanyakan

Hingga berita ini diturunkan, pihak distributor belum memberikan keterangan resmi. Pemerintah daerah juga belum mengeluarkan penjelasan terkait mekanisme pengawasan setelah himbauan HET diberlakukan.

Para petani dan pengecer berharap pemerintah segera turun tangan, memanggil distributor, serta memastikan distribusi berjalan sesuai aturan.

Kelangkaan pupuk di tengah masa tanam dapat menimbulkan efek domino serius, mulai dari menurunnya produktivitas pertanian hingga ancaman naiknya harga pangan di Agam.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *