Pasaman, Wartapatroli, – Terkadang, garis nasib tidak berjalan di rel harapan. Itulah takdir getir yang menimpa seorang Pahlawan Devisa asal Pasaman, Sumatera Barat. Di tanah rantau yang ia sangka menjadi ladang rezeki, justru luka dan dera menjadi teman hari-harinya.
Di balik batas negara dan debur ombak yang memisahkan dua daratan, nama Siska Atrianti, perempuan tangguh berusia sekitar 40 tahun dari Padang Petok, Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, menanggung kisah yang tak semua orang sanggup memikulnya.
Ia merantau ke Malaysia pada Februari 2025, demi sesuap harapan, demi menyambung hidup tiga buah hatinya.
Namun, jalan panjang itu berubah menjadi lorong penderitaan ketika ia disiksa oleh majikannya cermin retak dari mimpi yang seharusnya bersinar.
Di kampung halaman yang sejuk oleh angin Panti, Silvia Novi Yanti (38), tetangga Siska, menyampaikan kisah itu dengan suara yang menahan haru.
“Anaknya yang paling besar sudah SMP, yang tengah SD, dan yang paling kecil belum genap tiga tahun,” ujar Silvia kepada Wartapatroli.com, Minggu (23/11). By phon.
“Dia membesarkan anaknya dengan status janda, sejak si bungsu masih bayi. Dan kini… ia pergi merantau demi mereka.”
Siska meninggalkan ketiga anaknya kepada sang ibu yang sudah sepuh, melewati senja usia di atas enam puluh tahun. Di rumah sederhana itu, setiap malam adalah doa setiap subuh adalah harapan anak-anak agar ibunya pulang membawa kabar baik, bukan kabar luka.
Kini, kisah Siska mengalir bagai drama kolosal
Seorang ibu, seorang pejuang, seorang perempuan yang memikul tiga masa depan di pundaknya.
Ia melintasi batas negeri, namun tak mampu menghindar dari takdir kelam yang menyambutnya.
Kisah ini menjadi seruan bagi kita semua
Bahwa di balik label “Pahlawan Devisa”, tersimpan manusia dengan rindu, letih, dan air mata yang tak selalu terlihat.
Semoga langkah hukum mengalir setegas ombak yang memecah karang, dan keadilan datang bagai cahaya pagi yang menghapus kelam.(Bagindo)












