Agam  

Banjir Bandang di Lurah Dalam, Dua Rumah Hanyut, Warga Terisolasi dalam Senandung Duka Alam

Agam, Wartapatroli.com – Di antara rimbun perbukitan Pasie Laweh, Rabu (26/11) pagi itu alam kembali menumpahkan murkanya. Banjir bandang yang sejak Selasa mengamuk di Lurah Dalam seolah berubah menjadi ular raksasa yang menelan apa pun di jalurnya. Dua rumah milik Idar dan Imel hanyut bersama dentum arus sungai Batang Talang yang membesar dalam hitungan jam.

Puluhan warga yang berjaga sejak malam hingga fajar menatap pasrah hujan tak mereda, gemuruh air tak surut. Setiap detik terasa seperti detik terakhir bagi 12 rumah lain yang kini berdiri di bibir jurang baru tebing yang tergerus perlahan namun pasti oleh sungai yang meninggi dan mengamuk.

Warga telah dievakuasi ke titik aman, namun yang tersisa di kampung hanyalah jejak langkah, tangis, dan ketidakpastian. Lurah Dalam kini seperti pulau kecil yang hilang dari peta terisolasi total oleh banjir dan longsor.

Namun yang paling menusuk hati bukan hanya suara air atau derasnya hujan. Hening itu yang paling menyakitkan. Hingga Rabu siang, bantuan yang mereka nantikan tidak juga terlihat.
“Jangankan bantuan, didatangi saja kami tidak. Apakah menunggu ada korban dulu..?” tutur Makmur Pakiah Naro, dengan suara pecah seperti remuknya tanah tempat mereka berpijak, saat dikonfirmasi Wartapatroli.com.

Sejak Sabtu (22/11), warga bersama TNI–Polri telah berjuang sendiri membuka jalur, mengevakuasi keluarga, menjaga kampung dari kemungkinan terburuk. Namun tanah longsor terus menutup jalan, sementara jalur alternatif tak pernah ada. Di antara guyuran hujan, Lurah Dalam terasa seperti ruang sunyi yang tak terjangkau dunia luar.

Harapan Datang dari Arah Bukit
Kalaksa BPBD Agam, Rahmad Lasmono, membenarkan laporan tentang dua rumah yang hanyut subuh tadi. Menurutnya, BPBD sudah melaporkan kondisi darurat ini dan bergerak menuju lokasi bersama Bupati Agam, H. Beni Warlis.

Langkah mereka kini berpacu dengan cuaca. Jika hujan mereda, rombongan akan tiba siang ini dan bertemu langsung dengan warga yang telah dua hari bertahan dalam kecemasan.

“Semoga cuaca bersahabat,” ucap Rahmad, pada Wartapatroli.com
Harapan kecil yang kini menjadi pegangan besar bagi warga Lurah Dalam.

Lurah Dalam Menunggu Tangan Pemerintah
Di tengah gelapnya cuaca dan terputusnya akses, warga hanya bisa saling menguatkan. Tangis pagi itu bukan sekadar melihat rumah hanyut, tetapi karena merasa seolah berdiri sendirian di tengah bencana yang tak mereka undang.

Namun hari ini, angin kabar mulai bergerak: pemerintah akan datang. Jalan mungkin belum terbuka, namun harapan mulai menetes seperti cahaya kecil di balik kabut tebal Palupuah.

Bencana memang mencipta luka, namun kepedulian akan melahirkan penyembuhan. Dan di Lurah Dalam, warga kini menanti sentuhan itu dengan mata yang masih basah, namun hati yang tetap bertahan.(Badindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *