Agam  

Hujan Tak Kunjung Reda, Bencana di Agam Meluas

Agam, Wartapatroli.com, – Cuaca ekstrem yang dipanggil dari rahim bibit siklon 95B, berpadu dengan IOD negatif yang muram, terus menurunkan hujan-hujan panjang hingga ke ujung bulan, sebagaimana ditandai dalam tafsir cuaca BMKG.
Di langit Agam, seakan ada gurat kitab tua yang kembali terbuka tiga belas kecamatan di agam tercatat di dalamnya, dan setiap halaman seolah mempertebal bab-bab bencana yang tak kunjung mereda.

Di Malalak, IV Koto, Matur, Tanjung Raya, Lubukbasung, Tanjung Mutiara, Ampek Nagari, Palembayan, hingga Palupuah, air dan tanah seakan menjadi dua prajurit purba yang bangkit dari tidur ratusan tahun.
Mereka turun dari lereng, menerjang lembah, menguji daya setiap kampung. Menurut para penjaga berita Wartapatroli.com, Kamis (27/11), debit air yang menggila terus meninggi, dan titik-titik longsor seakan tumbuh seperti retakan baru pada batu prasasti tua.

Hujan yang tak kunjung padam menabuh atap dan bukit seperti genderang perang cuaca. Anak-anak sekolah tak dapat melangkah, kantor-kantor terdiam, dan di Lubukbasung, genangan mulai menulis garis-garis air di jalanan seperti tinta gelap mengukir kepanikan.

Di Koto Malintang, tubuh perbukitan runtuh. Longsor Muko-Muko memutus jalan Lubukbasung–Maninjau serpihan tanahnya bagaikan pecahan singgasana raksasa yang tumbang.
Di sepanjang jalur itu pula, luapan sungai mengaliri persawahan, menjadikan kiri-kanan jalan seperti dataran yang kembali ditarik ke zaman ketika lembah masih berupa rawa purba.

Akses menuju Bukittinggi pun patah oleh banjir dan tanah yang bergerak, seolah bumi menutup jalannya sendiri demi meredakan luka.

Di Muaro Kandang, Salareh Aia, kecamatan Palembayan, banjir naik hingga setinggi dada manusia dewasa kata warga, sudah mencapai satu meter. Jalan lintas Sumatera di lajur Manggopoh–Simpang Ampek Pasaman Barat tak lagi menjadi jalan, melainkan sungai baru yang diciptakan begitu saja.

Di Simpang Gudang dan Pasar Durian Manggopoh, jalur Lubukbasung–Padang ikut ditenggelamkan oleh luapan Batang Antokan. Dan para penafsir cuaca memprediksi ini baru awal. Hujan Kamis pagi tumbuh semakin lebat, seperti barisan awan yang menulis nubuatan kelabu di cakrawala.

Memandang semua itu, Sekda Agam Dr. M. Lutfie menyerukan kewaspadaan, ibarat seorang pemuka kerajaan lama yang berdiri di balairung menasihati rakyatnya jangan lengah meski langkah terasa perlu.
Setiap kantor camat kini berubah menjadi posko seperti benteng-benteng kecil di atas peta bencana yang terus bergerak.

Namun bab paling kelam dari naskah ini tertulis di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur. Banjir bandang turun seperti makhluk raksasa dari mitologi nenek moyang menyapu rumah, meratakan bangunan, membawa material longsor dengan kekuatan yang tak dapat dibalas manusia. Di antara puing-puing itu, kabar duka mengabarkan nyawa yang telah diambil.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *