Agam, Wartapatroli.com —
Sore Kamis (27/11) di Palembayan, Kabupaten Agam, langit seperti menumpahkan seluruh dukanya. Hujan deras mengguyur tanpa jeda, dan tak lama berselang, aliran sungai di belakang Polsek Palembayan meluap, menyeret apa saja yang berada di lintasannya.
Air bah atau Galodo, begitu warga Minangkabau menyebutnya menerjang kawasan permukiman dengan amarah yang sulit ditahan. Simpang Aia Tajun Jorong Kampung Tangah Timur dan Jorong Kayu Pasak di Nagari Salareh Aia menjadi saksi betapa cepat alam bisa berubah dari keseharian yang damai menjadi kepanikan tanpa arah.
Material lumpur, batang pohon, dan bebatuan besar ikut hanyut, menabrak rumah, pagar, dan kenangan yang baru pagi tadi masih utuh. Suara warga berbaur dengan gemuruh air, menyeru nama, mencari keluarga, menolong sekuat tenaga.
Saat dikonfirmasi Wartapatroli.com Kamis (27/11) salah seorang warga setempat Rahman 53) mengatakan “Kami hanya sempat menyelamatkan anak-anak dan dokumen penting,” dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Air datang begitu cepat, hanya dalam hitungan menit.”terangnya.
Beberapa korban telah dievakuasi ke Puskesmas Koto Alam untuk mendapat perawatan medis. Informasi awal mengindikasikan adanya korban jiwa dan luka-luka, namun jumlah pasti masih dalam pendataan.
Malam ini, aparat nagari, Polsek Palembayan, dan relawan dari berbagai penjuru masih bekerja di bawah sisa gerimis. Lampu-lampu senter menembus kabut, menerangi wajah-wajah letih yang tak ingin menyerah.
Pemerintah daerah kabupaten Agam diharapkan segera turun tangan mengirim bantuan logistik, membuka posko darurat, dan mengevakuasi warga yang masih terperangkap di wilayah rawan.
Di antara puing dan lumpur, doa tak henti mengalir semoga subuh nanti membawa kabar lebih baik, dan Palembayan bisa kembali berdiri, meski basah oleh air mata dan lumpur, namun tetap kuat dengan gotong royong dan harapan.(Bagindo)












