Agam,Wartapatroli.com, – Di balik gemuruh lumpur dan batu yang meluluh-lantakkan Dusun Subarang Aia, Jorong Arikia, Nagari Dalko, hadir sosok pejabat yang tidak peduli dengan status dan keselamatan diri setea kekawatiran keluarganya meski bukan seorang petugas BPBD ia memilih turun ke tanah basah, bukan sekadar menyaksikan dari jauh. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Agam, Helton, S.H., M.Si, berada di garis depan pencarian korban galodo dan longsor Arikia Dana Gadang Kecamatan Tanjung Raya, pada Jumat (28/11), bersama beberapa bawahan ia hadir di tengah suasana duka yang menyelimuti masyarakat Tanjung Raya.
Sejak pagi, Jum’at (28/11) Helton sudah berpijak di lokasi bencana. Dengan sepatu yang tertanam dalam lumpur dan langkah hati-hati di antara reruntuhan, ia ikut menyisir area pencarian dua warga yang masih hilang, pasangan Afrizul dan Mariana, yang terseret arus pada Kamis sore.
“Alhamdulillah, cuaca hari ini lumayan bagus sehingga pencarian korban bisa dilanjutkan,” ucapnya, menatap tim gabungan yang terus bekerja tanpa mengenal lelah.
Namun kehadirannya bukan sekadar formalitas sebuah jabatan. Ia berjalan bersama tim BPBD, TNI, Polri, pemerintah nagari, relawan, hingga pegawai Bapenda yang turut membantu. Mereka membersihkan material longsor, membuka jalur, dan memetakan titik-titik yang diduga menjadi tempat hanyutan korban upaya kecil manusia di tengah besarnya kuasa alam.
“Medannya sangat berat, banyak material lumpur dan batu besar menimbun permukiman warga,” ujar Helton, menggambarkan bagaimana alam menguji setiap langkah penyelamatan.
Rumah-rumah milik Zelna, Afrizul, Ernida, Ermiati, Warnita, Nurkiah, Nurbaiti, Yusmanidar, Basriah, Masfar, hingga Basri kini hanya tinggal potret kesedihan yang masih basah. Belasan keluarga terpaksa mengungsi, menepi sementara dari tempat yang dulu mereka sebut rumah.
Pada saat yang sama, kabar duka kembali datang. Seorang warga bernama Emnimar ditemukan telah meninggal dunia. Jenazahnya telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan dengan layak sebuah penutup perjalanan di tengah kepungan bencana.
Hingga hari ini, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 26 orang, dengan 7 korban yang belum teridentifikasi. Tumpukan material tebal masih menyulitkan alat berat bekerja, namun harapan tak dibiarkan runtuh.
“Kami berharap cuaca tetap stabil sehingga pencarian bisa optimal. Mohon doa agar korban segera ditemukan,” tutur Helton, menyampaikan harapan masyarakat yang menggantung pada langit.”ungkapnya menjawab Wartapatroli.com Jum’at (28/11) saat ditemui dilokasi bencana.
Pemerintah daerah kini menyiapkan langkah lanjutan asesmen kerusakan, pemenuhan kebutuhan darurat, hingga kemungkinan relokasi sementara bagiHelton Telusuri Tapak Duka, “Sebuah Kemanusiaan di Tengah Galodo Agam”
Agam,Wartapatroli.com, – Di balik gemuruh lumpur dan batu yang meluluh-lantakkan Dusun Subarang Aia, Jorong Arikia, Nagari Dalko, hadir sosok pejabat yang tidak peduli dengan status dan keselamatan diri setea kekawatiran keluarganya meski bukan seorang petugas BPBD ia memilih turun ke tanah basah, bukan sekadar menyaksikan dari jauh. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Agam, Helton, S.H., M.Si, berada di garis depan pencarian korban galodo dan longsor Arikia Dana Gadang Kecamatan Tanjung Raya, pada Jumat (28/11), bersama beberapa bawahan ia hadir di tengah suasana duka yang menyelimuti masyarakat Tanjung Raya.
Sejak pagi, Jum’at (28/11) Helton sudah berpijak di lokasi bencana. Dengan sepatu yang tertanam dalam lumpur dan langkah hati-hati di antara reruntuhan, ia ikut menyisir area pencarian dua warga yang masih hilang, pasangan Afrizul dan Mariana, yang terseret arus pada Kamis sore.
“Alhamdulillah, cuaca hari ini lumayan bagus sehingga pencarian korban bisa dilanjutkan,” ucapnya, menatap tim gabungan yang terus bekerja tanpa mengenal lelah.
Namun kehadirannya bukan sekadar formalitas sebuah jabatan. Ia berjalan bersama tim BPBD, TNI, Polri, pemerintah nagari, relawan, hingga pegawai Bapenda yang turut membantu. Mereka membersihkan material longsor, membuka jalur, dan memetakan titik-titik yang diduga menjadi tempat hanyutan korban upaya kecil manusia di tengah besarnya kuasa alam.
“Medannya sangat berat, banyak material lumpur dan batu besar menimbun permukiman warga,” ujar Helton, menggambarkan bagaimana alam menguji setiap langkah penyelamatan.
Rumah-rumah milik Zelna, Afrizul, Ernida, Ermiati, Warnita, Nurkiah, Nurbaiti, Yusmanidar, Basriah, Masfar, hingga Basri kini hanya tinggal potret kesedihan yang masih basah. Belasan keluarga terpaksa mengungsi, menepi sementara dari tempat yang dulu mereka sebut rumah.
Pada saat yang sama, kabar duka kembali datang. Seorang warga bernama Emnimar ditemukan telah meninggal dunia. Jenazahnya telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan dengan layak sebuah penutup perjalanan di tengah kepungan bencana.
Hingga hari ini, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 26 orang, dengan 7 korban yang belum teridentifikasi. Tumpukan material tebal masih menyulitkan alat berat bekerja, namun harapan tak dibiarkan runtuh.
“Kami berharap cuaca tetap stabil sehingga pencarian bisa optimal. Mohon doa agar korban segera ditemukan,” tutur Helton, menyampaikan harapan masyarakat yang menggantung pada langit.”ungkapnya menjawab Wartapatroli.com Jum’at (28/11) saat ditemui dilokasi bencana.
Pemerintah daerah kini menyiapkan langkah lanjutan asesmen kerusakan, pemenuhan kebutuhan darurat, hingga kemungkinan relokasi sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Di tengah duka dan kepungan lumpur, ada semangat yang tetap tumbuh. Semangat gotong royong, empati, dan rasa kemanusiaan bahwa ketika alam menguji, manusia tetap saling menguatkan. Sebuah sunyi, namun penuh makna, dari tanah Agam yang sedang mencoba bangkit kembali.(Bagindo) warga yang kehilangan tempat tinggal.
Di tengah duka dan kepungan lumpur, ada semangat yang tetap tumbuh. Semangat gotong royong, empati, dan rasa kemanusiaan bahwa ketika alam menguji, manusia tetap saling menguatkan. Sebuah sunyi, namun penuh makna, dari tanah Agam yang sedang mencoba bangkit kembali.(Bagindo)












