Agam  

Adenis Ardiles : Keluarga Yang Kini Tak Lagi Dapat Ia Peluk.

Agam, Wartapatroli.com, – Di balik denting halus alat medis dan aroma obat yang memenuhi ruang perawatan RSUD Lubuk Basung, Selasa (2/12) malam, Adeni Ardiles (34) terbaring menatap langit-langit yang seakan menyimpan seluruh luka hidupnya. Di tubuhnya, jejak jahitan dan lebam adalah saksi bisu dari perjuangan hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap kali ia menggerakkan tubuh, rasa nyeri seolah mengaduk kembali memori tentang keluarga yang kini tak lagi dapat ia peluk.

Adeni yang ditemukan sekitar 300 meter dari rumahnya di Jorong Subarang Aia, Nagari Koto Alam, Kecamatan Palembayan. Tubuhnya terjepit kayu besar yang menghantam dan menyeretnya sepanjang aliran galodo sebuah pertempuran antara hidup dan maut. Namun luka paling dalam bukan pada tubuhnya, melainkan pada ruang dada yang kini berisi kehilangan tak bertepi.

Istri yang setia, tiga anaknya yang berumur 7 tahun, 3 tahun, dan 9 bulan, serta mertuanya yang sampai detik ini hilang tersapu arus yang menerjang seperti amukan alam yang tidak memberi ampun. Sang anak berusia 3 tahun masih belum ditemukan. Dengan suara yang nyaris pecah, ia hanya mampu berkata, “Yang tinggal hanya saya sendiri.” Pak, saat dikunjungi Wartapatroli com di RSUD lubuk Basung Selasa (2/12) malam

Sore itu, pukul 17.15 WIB, menjadi batas antara hidup sebelum dan sesudah bencana. Adeni tengah berada di dalam kamar ketika suara gemuruh seperti truk besar datang dari arah luar suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Ketika menoleh, ia melihat dinding air hitam setinggi puluhan meter berlari seperti raksasa gelap menuju rumahnya.

“Airnya hitam sekali, dekat cuma sekitar 50 meter,” kenangnya.

Dalam kepanikan, ia meraih anak-anak dan menggendong si bungsu. Namun takdir berkata lain. Belum sempat mereka keluar rumah, gelombang pertama menghantam, menghancurkan seluruh bangunan dalam hitungan detik. Adeni, bersama seluruh keluarganya, terseret ke dalam gulungan air bercampur batu dan kayu. Anak-anaknya terlepas dari pelukannya, hilang dalam derasnya arus yang tak memberi ruang untuk menolong.

“Saya berusaha menarik mereka, tapi airnya kuat sekali saya tak sanggup,” ucapnya lirih.

Ia hanyut ratusan meter sebelum tersangkut di tumpukan kayu besar. Lumpuh, terluka, namun tetap berjuang untuk hidup. Dengan sisa tenaga, ia merangkak keluar dari kubangan lumpur, sembari menahan perih yang mencabik setiap inci tubuhnya. Saat maghrib tiba, warga menemukannya dalam kondisi sangat lemah sebuah tubuh yang nyaris menyerah namun masih menyisakan sedikit harapan.

Kini, di ruang perawatan rumah sakit, Adeni hanya memiliki satu permintaan sederhana namun penuh makna. Bukan pulang ke rumah yang sudah hilang, tetapi pulang ke kampung halamannya di Tanah Datar.

“Kalau nanti sudah boleh pulang, tolong antarkan saya ke Rambatan, Tanah Datar,” bisiknya, seolah takut harapan itu sendiri akan pecah.

Adeni adalah satu dari 36 korban galodo Palembayan yang kini menjalani perawatan intensif di RSUD Lubuk Basung. Di antara mereka, banyak yang kehilangan bukan hanya rumah atau harta, tetapi juga garis hidup yang selama ini mereka jaga keluarga, saudara, dan tempat berpulang.

Para penyintas kini bergantung pada bantuan sederhana pakaian ganti, selimut, perlengkapan mandi, pampers bayi, hingga jilbab bagi pasien perempuan. Di tengah luka dan trauma yang belum kering, mereka tetap menunggu dengan sabar menunggu kabar keluarga yang hilang, menunggu bantuan untuk bertahan satu hari lagi, menunggu waktu untuk menguatkan diri kembali.

Namun bagi Adeni, harapan hanyalah satu memiliki tempat untuk kembali. Meski rumahnya kini hanyalah kenangan yang tertimbun lumpur, ia tetap percaya setiap manusia berhak atas sebuah pulang meski bentuknya telah berubah selamanya.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *