Agam, Wartapatroli.com, – Langit Kabupaten Agam seakan ikut berduka. Aroma tanah basah dan puing-puing yang berserakan masih menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya banjir bandang yang meluluhlantakkan empat jorong di Nagari Salareh Aia Utara, Kecamatan Palembayan. Di tengah kesedihan yang belum surut, Selasa (2/12), tim gabungan kembali menemukan 9 korban dalam kondisi meninggal dunia.
Setiap jasad yang diangkat dari timbunan material seakan menggoreskan luka baru bagi masyarakat Agam. Tangis keluarga, isak para relawan, dan langkah pelan petugas menjadi ilustrasi kemanusiaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Menurut update data dari posko utama penanganan bencana hidrometeorologi Kabupaten Agam, jumlah korban meninggal kini mencapai 139 orang. Rinciannya:
Kecamatan Palembayan: 115 orang
Kecamatan Malalak : 12 orang
Kecamatan Tanjung Raya : 9 orang
Kecamatan Matur : 1 orang
Kecamatan Palupuah : 1 orang
Kecamatan Ampek Nagari : 1 orang
Sementara itu, jumlah warga yang masih dinyatakan hilang turut bertambah menjadi 86 orang, mayoritas berasal dari Kecamatan Palembayan yang terdampak paling parah.
Di sisi lain, gelombang pengungsi yang datang ke posko-posko darurat terus mengalir. Lebih dari 15.300 jiwa kini kehilangan rumah, tempat pulang, bahkan sebagian kehilangan seluruh anggota keluarga. Pengungsi terbanyak berada di Kecamatan Tanjung Raya dengan 9.198 orang, disusul Malalak, Palembayan, Ampek Nagari, IV Koto, Tanjung Mutiara, dan Palupuah.
Dalam suasana penuh keprihatinan ini, Diskominfo Agam terus memastikan keterbukaan informasi bagi masyarakat. Melalui Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Eki Marlinda, S.IP, yang memberikan keterangan via WhatsApp, terdata sebanyak 41 korban luka kini menjalani perawatan di tiga rumah sakit:
RSUD Lubuk Basung : 38 pasien
RS M. Djamil Padang : 2 pasien
RS M. Yamin Pariaman : 1 pasien
“Kami akan terus meng-update data sesuai perkembangan di lapangan, baik hasil pencarian korban hilang, data pengungsi, maupun total kerugian yang ditimbulkan bencana pekan lalu,” ujar Eki Marlinda, memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan merupakan gambaran kondisi terbaru dari titik-titik terdampak.
Di tengah derita yang menyesakkan, semangat gotong royong, kepedulian antarwarga, serta kerja tanpa lelah para petugas menjadi cahaya kecil yang menjaga harapan tetap bernyala. Agam mungkin sedang berkabung, namun tangan-tangan yang bekerja di bawah rintik hujan dan debu puing adalah bukti bahwa kemanusiaan tak pernah padam.(Bagindo)












