Agam  

Dibalik Hidro Meteorologi Menerjang Daerah Pemkab Agam Rilis Update Resmi

Agam, Wartapatroli.com, – Senja baru saja turun di Kabupaten Agam ketika kabar terbaru dari Posko Tanggap Darurat kembali menggema. Angin tipis membawa sisa aroma lumpur dan dedaunan basah, seolah menjadi saksi bisu betapa kerasnya bencana hidrometeorologi menerjang daerah ini. Di balik hiruk pikuk tim di lapangan, Pemkab Agam merilis update resmi hingga Selasa (2/12) pukul 20.00 WIB sebuah laporan yang bukan sekadar angka, tetapi kepingan cerita tentang kehilangan, keteguhan, dan harapan.

Kepala Dinas Kominfo Agam, Roza Syafdefianti, saat ditemui Wartapatroli.com Selasa (2/12) menyampaikan bahwa pendataan terus bergerak tiap jam, tiap langkah, tiap jangkauan petugas di medan yang penuh tantangan.

“Ada tambahan temuan korban dan laporan kerusakan dari kecamatan. Ini data yang hidup, terus berubah sesuai perkembangan lapangan,” ujar Roza siwanita tangguh ini dengan nada tegas namun tak dapat menyembunyikan keharuan.

139 Korban Meninggal, 86 Masih Hilang

Hingga pembaruan terbaru, jumlah korban meninggal dunia mencapai 139 orang, sementara 86 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Wilayah Palembayan kembali mencatat angka tertinggi dengan 115 korban meninggal dan 76 hilang, diikuti Malalak 12 orang meninggal dan Tanjung Raya 9 orang.

Di antara angka-angka itu, ada keluarga yang terpisah, ada doa yang masih menggantung, dan ada harapan yang tetap bertahan meski tipis, seperti cahaya lampu posko yang terus menyala sepanjang malam.

Pengungsi Membludak Hingga 15.300 Orang

Jumlah pengungsi melonjak melewati 15.300 jiwa, tersebar di berbagai lokasi pengungsian:

Tanjung Raya: 9.198 orang

Malalak: 2.419 orang

Palembayan: 1.511 orang

Di sudut-sudut tenda pengungsian, anak-anak mencoba tertawa, para ibu menata sisa barang yang terselamatkan, sementara para relawan tak henti mengatur logistik demi memastikan semua bertahan.

Sebanyak 41 warga masih menjalani perawatan intensif di tiga rumah sakit berbeda.

Kerugian Mencapai Rp 517 Miliar: Luka Alam dan Luka Perekonomian

Bencana ini tak hanya merobek tanah, tetapi juga mengoyak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Total kerugian sementara mencapai Rp 517 miliar, terdiri dari:

Kerusakan sekolah: Rp 10,5 miliar

Pertanian, irigasi, ternak: Rp 40,02 miliar

Rumah rusak: Rp 235,6 miliar

Jalan dan jembatan: Rp 221,7 miliar

Sektor perikanan: Rp 9,2 miliar

Dinas Pertanian juga melaporkan kerusakan lahan mencapai 1.029,63 hektare, termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, serta 2.231 ekor ternak yang terdampak.

Di beberapa titik, akses masih tertutup material longsor—membuat sebagian data belum dapat terverifikasi. Seperti luka yang masih tersembunyi, menunggu untuk ditemukan dan dirawat.

“Ini estimasi awal. Ada daerah yang belum bisa kami akses. Data akan bertambah seiring verifikasi lanjutan,” jelas Roza.

Fokus Pemerintah : Menemukan yang Hilang, Memulihkan yang Tersisa

Di tengah kesedihan kolektif ini, gerak pemerintah dan relawan tak pernah terhenti. Alat berat bergantian bekerja membelah material longsoran, tim SAR menyusuri aliran sungai yang keruh, sementara petugas kesehatan berpacu merawat para penyintas.

Roza menegaskan bahwa prioritas pemerintah hari ini adalah pencarian korban dan pemulihan cepat.

“Semua instansi bergerak. Evakuasi, logistik, hingga pemulihan mata pencaharian warga. Pembaruan resmi akan terus kami sampaikan,” katanya.

Data boleh menjadi angka.
Tapi di balik setiap angka, ada manusia.
Ada kisah-kisah yang tertinggal di antara puing dan lumpur.
Dan ada Agam, yang sedang berusaha bangkit pelan, namun pasti.(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *