Agam, Wartapatroli.com, – Di antara dinding perbukitan Kabupaten Agam yang selama ini berdiri gagah bak penjaga zaman purba, namun pada Sabtu (6/12) sore hujan kembali turun dengan kedahsyatan yang mengingatkan manusia betapa alam bisa berubah rupa dalam sekejap. Jalur vital Lubuk Basung – Bukittinggi, yang baru dua hari bernapas setelah tertutup longsor, kembali lumpuh total. Deras air dari langit seolah mengguratkan kembali kisah pilu yang belum sempat kering.
Di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, derasnya hujan memicu banjir bandang dan longsor yang tumpahannya meluber hingga ruas jalan provinsi Koto Malintang, Pasa Akaik. Lintasan yang biasa menjadi nadi perjalanan masyarakat, kini menjelma menjadi aliran keruh bercampur lumpur. Tumpahan air yang besar mengalir tak hanya ke jalan raya, tetapi juga memasuki pemukiman dan areal pertanian yang sebelumnya telah rata dilumat banjir bandang. Alam seperti menyapu ulang tanah yang belum sempat pulih.
Di beberapa titik, termasuk menjelang Pasar Maninjau, arus deras menghantam jembatan-jembatan darurat yang dibangun masyarakat. Akses beberapa jorong di Nagari Maninjau dan Nagari Sungai Batang kembali terputus, meninggalkan angin malam yang membawa kabar getir dari tepian danau.
“Dampak hujan Sabtu sore juga memutus akses Kelok 44. Di Matur dan IV Koto terjadi beberapa titik longsor,” ujar Kepala Badan Kesbangpol Agam, Bambang Warsito, yang terus memantau kondisi bersama Dandim 0304/Agam Letkol Inf. Slamet Dwi Santoso. Kata-kata mereka mengalir seperti larik-larik pada naskah lama tenang, namun menyimpan kegentingan.
Informasi yang dihimpun Wartapatroli.com di lapangan Sabtu (6/12) menyebutkan, rangkaian banjir dan longsor ini membuat akses Lubuk Basung – Maninjau – Matur – IV Koto – Banuhampu – Bukittinggi kembali terputus. Pemerintah telah mengeluarkan himbauan resmi kepada masyarakat untuk menghindari perjalanan pada jalur tersebut. Penanganan akan dilanjutkan setelah cuaca kembali bersahabat karena di tengah amukan alam, keselamatan adalah kewajiban pertama.
Di balik berita bencana ini, terselip fragmen-fragmen keteguhan. Di antara kabut dan hujan yang tak kunjung reda, petugas, relawan, dan warga kembali berdiri bersama, laksana pasukan kuno yang menyatukan langkah di tengah medan sulit. Mereka memanggul alat, menembus hujan, memeriksa titik rawan, seakan melanjutkan kisah klasik tentang manusia yang bertahan menghadapi murka alam.
Dan di bawah langit Agam yang masih berat oleh awan, sebuah harapan kecil tetap menyala harapan bahwa tanah yang retak ini akan sembuh, bahwa jalan yang patah akan kembali tersambung, dan bahwa masyarakat akan bangkit sebagaimana mentari yang selalu datang setelah badai pergi.(Bagindo)












