Agam, Wartapatroli.com —
Embun malam turun di Maninjau tanpa nyanyian air. Batang Muaro Pisang, sungai yang selama ini setia mengalirkan kehidupan, mendadak keting dan membisu.
Alirannya mengering secara tak wajar, memantik kepanikan dan kegelisahan di tengah warga yang bermukim di sekitarnya, Rabu (31/12).
Kekeringan mendadak itu menyisakan tanda tanya besar dan rasa cemas yang menebal.
Dugaan kuat mengarah pada tersumbatnya aliran air di bagian hulu. Kekhawatiran pun menguat jika bendungan alami itu jebol, galodo bisa meluncur sewaktu-waktu, datang tanpa aba-aba, menyapu apa pun yang dilaluinya, situasi kian mencekam ketika gelap menyelimuti sebagian wilayah.
Aliran listrik padam di sejumlah titik, meninggalkan warga dalam sunyi yang menegangkan. Dalam keadaan itu, banyak warga memilih mengungsi, menjauh dari bantaran sungai, mencari tempat yang dianggap lebih aman sembari memanjatkan doa.
Simpang Jalan Kelok Satu menjadi titik kumpul. Warga berjaga dengan mata tak lepas dari arah hulu, seakan menantang gelap dengan kewaspadaan.
Demi keselamatan bersama, pemuda setempat menghambat arus lalu lintas dan melarang kendaraan melintas. Langkah itu diambil sebagai ikhtiar, mengingat potensi banjir bandang yang bisa datang tiba-tiba.
Malam di Maninjau bukan sekadar gelap, tetapi sarat rasa waswas. Alam seakan sedang menahan napasnya, dan manusia hanya bisa berjaga, berharap fajar datang tanpa membawa bencana.(Bagindo)












