Agam  

Galodo Susulan Kembali Tutup Akses Lubuk Basung–Bukittinggi, Maninjau Masih Mencekam

Agam, Wartapatroli.com — Galodo susulan kembali menutup total akses jalan provinsi Lubuk Basung–Bukittinggi di kawasan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (1/1) sore.

Material lumpur, batu, dan kayu yang turun dari kawasan hulu menimbun badan jalan di sekitar BRI Lama, Pasar Maninjau, memaksa aktivitas pembersihan dihentikan sementara karena kondisi dinilai sangat berbahaya.
Peristiwa ini terjadi saat alat berat masih berjibaku membuka jalur utama yang sejak dini hari sebelumnya lumpuh akibat banjir bandang.

Aliran material yang masih labil dan terus bergerak membuat kawasan tersebut kembali berada dalam status rawan, sementara akses transportasi vital penghubung Bukittinggi–Lubuk Basung belum dapat difungsikan.

Selain memutus jalur utama, banjir bandang juga menghantam permukiman warga. Data sementara mencatat sedikitnya 40 unit rumah terdampak, beberapa di antaranya berada tepat di jalur aliran material longsor yang berubah arah pascabencana.

Perubahan alur sungai ini menjadikan wilayah yang sebelumnya relatif aman kini masuk dalam zona ancaman baru.
Bupati Agam, Benni Warlis Dt Tan Batuah, meninjau langsung lokasi bencana pada Kamis siang.

Ia menyambangi rumah warga terdampak sekaligus memantau penanganan darurat yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan.
Menurut Benni Warlis, ancaman galodo di Maninjau belum sepenuhnya berakhir. Pergeseran aliran sungai akibat bencana menjadi sinyal serius bahwa risiko ke depan justru bisa semakin meluas.

“Kondisi Maninjau saat ini masih mencekam. Sungai sudah berpindah aliran, sehingga rumah penduduk yang dulu tidak terdampak sekarang ikut terancam. Ini menjadi perhatian serius kita,” ujarnya, menjawab Wartapatroli.com Kamis (1/1) malam

Ia menegaskan, pembersihan material longsor di badan jalan hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan. Pemerintah daerah, kata dia, mendorong langkah mitigasi menyeluruh, terutama penanganan kawasan hulu dengan pendekatan teknis berbasis keilmuan.

“Membersihkan longsor di jalan bisa dilakukan dengan alat berat. Tapi akar masalahnya ada di hulu. Penanganannya harus berbasis keilmuan. Ini sudah kita sampaikan ke gubernur dan Balai Wilayah Sungai agar dilakukan penanganan teknis dari atas sampai ke hilir,” tegasnya.

Saat ini, empat unit alat berat dikerahkan ke lokasi terdampak. Namun, satu unit excavator bantuan PDIP dilaporkan sempat tertimbun material longsor, menggambarkan betapa ganas dan tak terduganya pergerakan galodo di kawasan tersebut.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemetaan rumah terdampak, pengamanan area rawan, serta mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan.

Di tengah deru mesin alat berat dan lumpur yang belum sepenuhnya mengering, Maninjau masih berada dalam kepungan ketidakpastian. Pemkab Agam memastikan upaya mitigasi akan terus diperkuat, mulai dari penanganan darurat, normalisasi aliran sungai, hingga perencanaan teknis jangka menengah agar galodo tak lagi menjadi ritual duka yang berulang di jalur vital dan permukiman warga.
(Bagindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *