Agam, Wartapatroli.com —
Awal tahun 2026 kembali dibuka dengan kecemasan di Kabupaten Agam. Curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah ini sejak Kamis hingga Jumat (1–2/1) memicu banjir bandang dan longsor susulan di sejumlah kecamatan, terutama wilayah yang telah lebih dulu terluka oleh bencana pada November 2025 lalu, seperti Maninjau kecmatan Tanjung Raya.
Hujan deras disertai angin kencang turun hampir merata, memantik longsor dan luapan sungai berulang ulang di Kecamatan Tanjung Raya, dan Ampek Nagari Warga yang masih menyimpan trauma memilih bertahan di pengungsian, enggan kembali ke rumah meski sebagian wilayah tampak relatif aman.
Informasi yang dihimpun redaksi Wartapatroli.com, Jumat (2/1), menyebutkan banyak warga terdampak sebelumnya masih dihantui ketakutan mendalam. Setiap suara gemuruh dan hujan lebat menjadi alarm psikologis yang membangunkan ingatan akan galodo dan tanah runtuh. Trauma itu tidak hanya dirasakan anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
Di kawasan Kelok 42–Kelok 44, Kecamatan Matur, ketakutan itu bahkan mendorong warga meninggalkan rumah sejak Kamis (1/1). Mereka memilih mengungsi ke tempat lain, meski secara geografis sebagian lokasi pengungsian berada di area yang relatif jauh dari ancaman longsor.
Kapolsek Matur, AKP Nofriandi, bersama Wali Nagari Matua Mudiak, dan juga beberapa warga serta tokoh masyarakat lainnya membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa warga yang mendirikan tenda di tepi jalan menggunakan fasilitas dari Posko Penanganan Bencana Matur sebenarnya berada di zona aman. Namun, trauma membuat rasa aman menjadi relatif.
“Kami memahami kondisi psikologis warga. Trauma itu nyata. Kami akan terus memantau situasi dan sudah mendatangi warga di kawasan tersebut,” ujar AKP Nofriandi kepada Wartapatroli.com, Jumat (2/1).
Situasi serupa juga terjadi di Maninjau, Sungai Batang, Bayua, Duo Koto, Salareh Aia, Palembayan, Malalak, hingga Palupuah. Wilayah-wilayah ini masih berada dalam bayang-bayang ancaman banjir bandang dan longsor, seiring hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Hingga berita ini diturunkan, Jumat (2/1), intensitas hujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Agam masih tergolong sangat tinggi. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memicu bencana susulan di titik-titik rawan yang telah teridentifikasi sebelumnya.
Di tengah cuaca ekstrem yang belum bersahabat, harapan warga hanya satu agar hujan segera reda, dan Agam diberi kesempatan untuk pulih tanpa kehilangan luka dan nyawa baru di awal tahun yang seharusnya membawa harapan.(Bagindo)












