Agam, Wartapatroli.com —
Gemuruh galodo yang beberapa hari terakhir mencekam kawasan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, perlahan mulai mereda. Sungai Batang Muaro Pisang yang sebelumnya meluap liar membawa lumpur, batu, dan kayu, kini menunjukkan tanda-tanda lebih jinak.
Namun di balik ketenangan yang mulai tampak, kewaspadaan masih dijaga ketat.
Pemerintah Kabupaten Agam belum berani mengambil risiko memulangkan warga ke rumah masing-masing. Keselamatan tetap menjadi panglima, mengingat cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat dan potensi galodo susulan masih membayangi kawasan rawan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, saat meninjau langsung akses jalan provinsi Lubuk Basung–Bukittinggi yang sempat lumpuh total akibat banjir bandang dan longsor, Sabtu (3/1) sore. Jalur vital tersebut kini sudah bisa dilalui kendaraan secara terbatas sejak sekitar pukul 16.00 WIB, setelah petugas berjibaku membersihkan material longsor.
“Meski kondisi mulai tampak membaik, kita belum ingin gegabah. Beberapa hari ke depan akan terus kita pantau.
Untuk sementara, warga masih tetap berada di pengungsian yang aman,” ujar Iqbal di tengah sisa lumpur yang masih mengering di badan jalan.
Ia menegaskan, prioritas utama pemerintah daerah saat ini adalah keselamatan warga.
Trauma bencana yang berulang, serta perubahan cuaca yang sulit diprediksi, menjadi pertimbangan utama belum dibukanya akses kembali ke permukiman terdampak.
Di sisi lain, penanganan darurat terus dikebut.
Pemkab Agam bersama relawan bencana dari pemerintah pusat dan provinsi memusatkan perhatian pada normalisasi Sungai Batang Muaro Pisang, sebagai urat nadi ancaman yang sewaktu-waktu bisa kembali meluap dan menerjang rumah warga di sepanjang bantaran.
Namun perjuangan di lapangan tidaklah mudah. Keterbatasan alat berat menjadi kendala serius.
Hingga kini, hanya empat unit alat berat yang bekerja di kawasan banjir bandang Pasa Maninjau, Nagari Maninjau. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan luas wilayah terdampak dan beratnya material galodo berupa bebatuan besar, kayu gelondongan, serta lumpur tebal yang menimbun rumah dan fasilitas umum.
“Alat berat sangat dibutuhkan, bukan hanya di Tanjung Raya, tetapi di seluruh titik terdampak bencana di Kabupaten Agam. Semakin banyak alat, semakin cepat penanganan darurat bisa dilakukan,” tegas Iqbal.
Pemerintah Kabupaten Agam berharap adanya tambahan dukungan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, agar proses normalisasi sungai dan pemulihan pascabencana dapat segera dituntaskan.
Harapannya satu warga Maninjau dapat kembali ke rumah mereka dengan aman, tanpa lagi dihantui kecemasan oleh galodo yang berulang.
Di tanah yang masih basah oleh lumpur dan air mata, Agam terus bertahan menyusun harapan di tengah reruntuhan, menunggu alam benar-benar kembali tenang.(Bagindo)












