Agam, Wartapatroli.com – Semangat pelestarian seni dan budaya lokal kembali mendapat perhatian serius. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN) Kabupaten Agam, Andri Asmi, menggelar pertemuan koordinasi terkait persiapan dan pengembangan Mars Lubuk Basung, yang diharapkan menjadi salah satu identitas musikal kebanggaan masyarakat Lubuk Basung.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah pelaku seni dan musik asal Lubuk Basung, di antaranya penyanyi sekaligus pencipta lagu Minang legendaris Era Darwis, dan Irwan Dinata, serta produser Pamenan Music Studio Record, Dafid, IP.
Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas aspek teknis penyempurnaan karya, namun juga menjadi ruang silaturahmi dan bertukar gagasan tentang masa depan seni budaya daerah.
Di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak cepat, para seniman lokal diharapkan tetap mampu menjaga identitas budaya Minangkabau melalui karya-karya yang berkualitas.
Pada Wartaatroli.com Rabu (17/6) Andri Asmi menyampaikan harapannya agar koordinasi yang dibangun dalam suasana kekeluargaan tersebut dapat menjadi langkah awal memperkuat ekosistem seni di Kabupaten Agam.
“Melalui kebersamaan dan kolaborasi ini, kita berharap nilai-nilai seni dan budaya daerah semakin berkembang. Para pelaku seni lokal harus terus diberikan ruang untuk berkarya sehingga mampu bersaing dan dikenal tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga di kancah nasional,” ujarnya.
Mars Lubuk Basung sendiri merupakan karya kolaboratif yang lahir dari perpaduan pengalaman dan kreativitas para insan seni daerah,
Yang mna Lagu tersebut digarap oleh maestro musik Minang asal lubuk Basung Era Darwis bersama tim kreatif yang didukung oleh Pamenan Music Studio Record di bawah arahan Dafid, IP.
Di balik nada dan lirik yang dirangkai, tersimpan harapan agar Mars Lubuk Basung mampu menjadi simbol semangat, persatuan, serta kecintaan masyarakat terhadap kampung halaman.
Sebuah karya yang tidak hanya terdengar sebagai alunan musik, tetapi juga menjadi pengingat akan sejarah, budaya, dan jati diri daerah.
Pertemuan yang berlangsung penuh kehangatan itu menjadi bukti bahwa seni mampu menyatukan berbagai generasi.
Dari tangan para seniman yang mencintai tanah kelahirannya, lahir sebuah karya yang diharapkan dapat menggaungkan nama Lubuk Basung lebih luas, sekaligus menjadi warisan budaya yang membanggakan bagi generasi mendatang.(Deni Aprianto)












