Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapatroli.com
Ada saat-saat ketika Gedung Dewan tampak seperti Panggung Besar dan
kursi-kursi kosong menjadi Aktor bisu, serta Absensi yang bolong-bolong menjadi Musik latar,
dan Rakyat Agam, yang notabene sebagai Daulat Pemberi Mandat tampil sebagai penonton setia, seakan dipaksa menyaksikan lakon yang dimainkan Wakilnya semakin hambar.
Para Wakil Rakyat yang terpilih dengan hormat,
dengan janji yang dulu ditulis di atas kertas perjuangan,
kini tiba-tiba berubah menjadi Figur yang kehilangan arah.
Tugas menjadi Formalitas,
tanggung jawab berubah menjadi bayangan,
dan “Moral”… terjatuh perlahan seperti dedaunan tua yang tak lagi digubris angin.
Mereka lupa, mungkin,
bahwa kehormatan seorang wakil rakyat tidak diukur dari tebalnya jas,
melainkan dari seberapa sering kaki mereka melangkah ke ruang sidang, dan seberapa rendah hati mereka menunduk kepada amanah rakyat yang menjadi konsituennya.
Ketika seorang Anggota Dewan menanggalkan kedisiplinan,
sesungguhnya ia sedang melepaskan pakaian dan harga dirinya sendiri.
Dan tidak ada yang lebih menyedihkan dari pada pejabat publik
yang kehilangan rasa malu
tapi tetap mempertahankan gelar “Anghota Dewan Yang Terhormat.”
Rakyat tidak menuntut mereka menjadi Pahlawan.
Rakyat hanya meminta mereka hadir fisik dan nurani.
Namun sebagian justru memilih menjauh,
seolah posisi yang mereka duduki adalah panggung privat
bukan mandat berjuta suara.
Ironinya ada beberapa oknum Anggota Dewan Agam, yang mengimplementasikan tugas sederhana hadir dan bekerja menjadi beban paling berat,
sementara fasilitas, gaji, dan kehormatan
dengan ringan digenggam tanpa rasa bersalah.
Maka karya seni yang penulis torehkan hari ini bukanlah mural atau puisi,
melainkan kritik yang terpaksa ditulis oleh kekecewaan publik.
Kritik yang menggugah, merobek, dan mengingatkan
bahwa wakil rakyat tidak boleh hidup dari kelalaian moralnya sendiri.
Sebab bila etika runtuh,
tidak hanya martabat individu yang gugur,
tapi juga kepercayaan rakyat dan kepercayaan adalah satu-satunya pangkat
yang tidak bisa dibeli,
tidak bisa diwarisi,
dan mudah sekali hilang
jika dijual murah oleh perilaku sendiri.
Jujur saja, kali ini Penulis sedikit enggan dan takut para Anggota Dewan Agam, terhormat lainnya yang Amanah menduga dan salah presepsi terhadap kritikan atau tulisan ini, disini penulis tidak bermaksut menjastis lembaga, melainkan hanya mengkeritik beberapa oknum Anggota DPRD Agam, yang tidak peduli akan Amanah Konstituen dan menjadikan Gedung DPRD Agam, sebagai ladang pribadi yang datang hanya disaat kunjungan keluar daerah atau terima gaji semata. (*)












