Agam, Wartapatroli.com –
Di antara sisa lumpur, rumah yang basah, dan udara yang masih menyimpan cemas, sebagian warga terdampak bencana alam di Kabupaten Agam mulai melangkah pulang. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan harap-harap waspada, sementara ribuan jiwa lainnya masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Hingga Minggu (14/12) pukul 20.00 WIB, sebanyak 4.688 jiwa masih tercatat mengungsi. Namun, angka itu perlahan bergerak. Di beberapa nagari, jumlah pengungsi mulai berkurang seiring membaiknya kondisi lapangan dan dibukanya kembali akses yang sebelumnya terputus.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Roza Syafdefianti, menyebut tren kepulangan warga mulai terlihat di sejumlah kecamatan, terutama Tanjung Raya, Palembayan, dan Malalak.
“Berdasarkan laporan dari kecamatan dan nagari, sebagian warga sudah kembali ke rumah. Namun jumlah ini masih dinamis karena kepulangan dilakukan secara bertahap. Ada juga warga yang kembali ke pengungsian saat kondisi cuaca memburuk,” ujar Roza saat dikonfirmasi Wartapatroli.com, Minggu (14/12) malam.
Di Kecamatan Tanjung Raya, denyut kepulangan paling terasa. Warga di wilayah Sungai Rangeh, Jorong Nagari, Linggar Park, hingga Sungai Tampang mulai menata kembali kehidupan mereka. Meski demikian, posko-posko pengungsian di kawasan tersebut tetap disiagakan, seolah menjadi penjaga terakhir jika alam kembali menunjukkan kuasanya.
Sementara di Kecamatan Malalak, warga Nagari Malalak Timur memilih pulang dengan langkah hati-hati. Sebagian kembali ke rumah sendiri, sebagian lainnya menumpang di rumah keluarga. Ada yang menetap, ada pula yang bolak-balik antara pengungsian dan rumah, membersihkan sisa-sisa bencana dan mengamankan barang yang tersisa.
“Warga yang sudah pulang kami minta tetap waspada dan segera mengungsi kembali jika kondisi dinilai tidak aman. Keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama pemerintah daerah,” tegas Roza.
Pemerintah Kabupaten Agam memastikan proses pendataan pengungsi serta warga yang telah kembali ke rumah akan terus diperbarui secara berkala. Data tersebut menjadi pijakan penting dalam menyesuaikan distribusi bantuan bukan hanya bagi mereka yang masih bertahan di pengungsian, tetapi juga untuk menopang langkah awal pemulihan pascabencana.
Di Agam, kepulangan bukan sekadar kembali ke rumah. Ia adalah perjalanan antara trauma dan harapan, antara luka dan keyakinan bahwa hidup harus terus berjalan meski alam belum sepenuhnya tenang.(Bagindo)












