Agam  

Isak Tangis Warga Matur Mengiringi Survei Banda Badarun yang Kini Tinggal Kenangan

Agam, Wartapatroli.com
Di bawah langit yang seolah ikut berduka, isak tangis masyarakat jorong Padang Galanggang Nagari Matua Mudiak, Kecamatan Matur Kabupaten Agam, pecah saat melakukan Survei Banda Badarun, akibat dihatam tanah longsor, saluran irigasi yang telah  puluhan tahun menjadi urat nadi kehidupan nagari matur mudiak. Kini, Banda Badarun itu telah terban, tersapu galodo dan tanah longsor, airnya tak lagi mengalir ke sawah-sawah warga, melainkan meluncur liar ke arah Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya.

Banda Badarun bukan sekadar saluran air. Ia adalah saksi sejarah, penghidup sawah, dan penopang harapan ratusan keluarga. Namun bencana hidrometeorologi yang disertai tanah longsor telah merenggut fungsinya, menyisakan luka mendalam bagi masyarakat.

Berdasarkan hasil pendataan sementara relawan dan tokoh nagari, yang dijumpai Wartapatroli.com Jum’at (19/12) total kerusakan yang ditimbulkan bencana ini sangat signifikan. Saluran irigasi Banda Badarun sepanjang kurang lebih 2 kilometer mengalami kerusakan berat. Sekitar 40 hektare pesawahan terdampak langsung, mengancam musim tanam dan ketahanan pangan lokal.

Sebanyak 60 kepala keluarga petani kehilangan akses pengairan akibat longsor yang memutus saluran irigasi. Lebih luas lagi, sekitar 4.000 kepala keluarga terdampak secara tidak langsung akibat terputusnya saluran air bersih dan pengairan pesawahan, belum termasuk dampak lanjutan pada area pertanian dan permukiman di sebagian wilayah Kecamatan Tanjung Raya.

Di tengah duka, masyarakat menyuarakan kebutuhan mendesak sebagai langkah penyelamatan. Diperlukan empat unit excavator PC 135 ke atas beserta loader, lengkap dengan dukungan operasional, untuk membuka dan menormalisasi kembali jalur irigasi. Selain itu, kebutuhan pipanisasi Pamsimas menjadi sangat krusial, dengan permintaan pipa ukuran 3 inci dan 2 inci sebanyak 600 batang, demi memulihkan akses air bersih bagi warga.

Informasi ini disampaikan oleh Relawan Masyarakat,
ditandatangani oleh Iswandrinos Imam Sinaro Panjang,
dan diketahui oleh Wali Nagari Akmal Hamid.

Saat dikonfirmasi Wartapatroli.com, Jum’at (19/12) seorang Tokoh masyarakat Sawaldi, S.Pd, menyuarakan harapan agar bencana ini mengetuk nurani para perantau Matua dan pemerintah daerah kabupaten agam. “Kami tidak meminta kemewahan, hanya uluran tangan agar sawah kembali berair, agar dapur tetap mengepul, dan agar nagari ini tetap hidup,” ujarnya dengan suara bergetar.

Banda Badarun mungkin telah runtuh, namun harapan masyarakat belum sepenuhnya padam. Dari reruntuhan tanah dan derasnya air galodo, mereka menunggu kehadiran negara, menanti kepedulian, dan menggenggam doa agar kehidupan dapat mengalir kembali seperti sedia kala.(En Tanjung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *