Agam, Wartapatroli.com — Di tengah luka alam yang belum sepenuhnya pulih, harapan kembali ditanamkan. Sebanyak 545 kepala keluarga (KK) terdampak bencana di Kabupaten Agam menyatakan kesiapan untuk menempati hunian sementara (huntara) yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Agam, sebagai jembatan menuju kehidupan yang kembali utuh.
Huntara tersebut tersebar di 10 lokasi pada lima kecamatan, menjadi simbol kehadiran negara di tengah puing-puing duka dan ketidakpastian.
Di Kecamatan Palembayan, huntara dibangun di tiga titik: Lapangan Bola SDN 05 Kayupasak Salarehaia, Lapangan Bola Padang Sibabaju Salarehaia, dan Lapangan Bola Jajaran Tantaman. Dari wilayah ini, 207 KK menyatakan bersedia meninggalkan reruntuhan masa lalu demi menata masa depan yang lebih aman.
Sementara itu, di Kecamatan Ampek Koto, lahan DOB Bancah Balingka disiapkan sebagai tempat bernaung sementara bagi 85 KK yang berasal dari Nagari Sungai Landia, Koto Gadang, dan Balingka warga yang kini belajar kembali menyebut tenda sebagai rumah, dan kebersamaan sebagai kekuatan.
Di Kecamatan Malalak, suasana Lapangan Lambeh, Bukik Malancah, menjadi saksi kesiapan 14 KK untuk melanjutkan hidup di bawah atap yang sederhana namun penuh harap.
Di Kecamatan Palupuh, huntara berdiri di Lapangan Pakan Salasa Jorong Sungai Guntung dan Lapangan Jorong Bateh Gadang. Dari dua titik ini, 51 KK siap menata hari, merangkai harapan di antara dinding sementara.
Sedangkan di kawasan salingka Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya mencatat angka kesiapan tertinggi. Huntara tersebar di OW Linggai Nagari Duo Koto, Lapangan Kukuban Maninjau, dan Lapangan Jorong Labuah Sungai Batang. Dari tujuh nagari, 188 KK menyatakan bersedia berpindah, meninggalkan rumah yang tak lagi aman demi keselamatan keluarga.
Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, MM, Dt. Tan Batuah, menegaskan pentingnya edukasi dan sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat terdampak, terutama bagi warga dengan kategori rumah rusak berat.
“Huntara ini adalah ruang aman sementara. Tempat warga berteduh, beristirahat, dan kembali menguat, sembari menunggu hadirnya hunian tetap,” ujar Benni kepada Wartapatroli.com, Minggu (22/12).
Ia menekankan bahwa rumah dengan kerusakan berat tidak memungkinkan untuk dihuni kembali dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, huntara menjadi pilihan rasional sekaligus kemanusiaan agar aktivitas warga tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan.
Lebih jauh, Benni menyoroti pentingnya pendataan kerusakan rumah dan infrastruktur secara menyeluruh. Data tersebut akan menjadi pijakan pemerintah daerah dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk pengajuan bantuan ke pemerintah pusat.
“Pemerintah Kabupaten Agam tidak hanya membangun kembali bangunan, tetapi juga menjaga harapan dan martabat warganya,” tegasnya.
Di antara papan kayu, tenda, dan lapangan yang disulap menjadi tempat tinggal, huntara kini berdiri sebagai saksi bahwa di Agam, duka tidak dibiarkan sendiri, dan pemulihan adalah kerja bersama perlahan, namun pasti.(Bagindo)












