Agam, Wartapatroli.com, —
Di balik tenda-tenda darurat yang berderit diterpa angin malam, Kabupaten Agam menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Pasca bencana hidrometeorologi yang meluluh lantakkan ratusan rumah, pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu menyusun transisi antara kehilangan dan harapan, antara puing dan masa depan.
Pemerintah Daerah Kabupaten Agam mencatat sedikitnya 518 kepala keluarga membutuhkan hunian sementara (Huntara) akibat kerusakan berat pada rumah mereka.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret ratusan keluarga yang terpaksa menggantungkan hidup di ruang-ruang sementara, menunggu kepastian di tengah ketidakpastian.
Saat dikonfirmasi Wartapatroli.com, Sekretaris Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim-red) Kabupaten Agam, Ir. Rudi Hendri, Selasa (24/12), mengungkapkan bahwa huntara disiapkan sebagai langkah darurat sekaligus jembatan rapuh menuju hunian tetap.
“Hunian sementara ini merupakan tahap transisi. Kami berupaya agar warga terdampak dapat tinggal di tempat yang lebih aman dan layak sambil menunggu proses pembangunan hunian tetap,” ujar Rudi Hendri.
Palembayan dan Tanjung Raya Episentrum Kehilangan
Berdasarkan rekapitulasi, Kecamatan Palembayan menjadi wilayah dengan kebutuhan huntara tertinggi, mencapai 205 KK, disusul Kecamatan Tanjung Raya sebanyak 181 KK. Di Palembayan, lahan-lahan publik yang dahulu menjadi ruang bermain dan berkumpul kini berubah fungsi menjadi tempat berteduh dari nestapa.
Lapangan Bola SDN 05 Kayu Pasak, Padang Sibabaju Jorong Kayu Pasak Timur, hingga Lapangan Bola Jajaran Tantaman menjadi saksi bagaimana anak-anak kini bermain di antara rangka bangunan sementara, di atas tanah yang masih menyimpan jejak lumpur dan kenangan.
Pembangunan huntara di Lapangan Bola SDN 05 Kayu Pasak telah dimulai. Namun, bagi warga, waktu berjalan lebih lambat dari rasa cemas yang terus mengendap.
Wilayah Lain, Luka yang Sama
Di Kecamatan IV Koto, sebanyak 66 unit huntara direncanakan berdiri di lahan DOB Bancah, Balingka.
Kecamatan Malalak membutuhkan 15 unit di Lapangan Lambeh Jorong Bukik Malanca, sementara Kecamatan Palupuh memerlukan 51 unit di Lapangan Pakan Salasa Jorong Sungai Guntuang dan Lapangan Jorong Bateh Gadang.
Di Tanjung Raya, huntara akan tersebar di beberapa nagari, di antaranya Lahan Kampung Ujung Jorong Bancah, Nagari Maninjau, serta kawasan OW Linggai Nagari Duo Koto lokasi yang sebelumnya identik dengan denyut wisata, kini menjadi ruang pemulihan trauma.
Menuju Hunian Tetap Harapan yang Masih Diperjuangkan, sebagai kelanjutan dari fase darurat, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan hunian tetap (Huntap-red) di BBI Gumarang Palembayan.
Proses pematangan lahan tengah berlangsung, menjadi simbol awal dari janji pemulihan jangka panjang, “Kami berharap, setelah masa tinggal di hunian sementara, warga dapat segera menempati hunian tetap yang lebih aman dan layak.
Proses ini tentu dilakukan bertahap dan membutuhkan dukungan pemerintah provinsi serta pusat,” tutur Rudi Hendri.
Namun di lapangan, pertanyaan terus bergema: seberapa cepat janji itu akan menjelma nyata?
Di tengah musim hujan yang belum sepenuhnya beranjak, warga Agam masih menunggu dalam diam, dalam doa, dan dalam harapan yang tak ingin runtuh seperti rumah mereka.
Bencana mungkin datang tanpa aba-aba, tetapi pemulihan menuntut kehadiran negara yang tak sekadar tercatat di laporan, melainkan terasa hingga ke relung kehidupan paling sunyi.
(Bagindo)












