Agam, Wartapatroli.com —
Hujan lebat yang kembali mengguyur wilayah Kabupaten Agam memicu banjir susulan di kawasan AMP III–Patok 17, Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan, Selasa (23/12). Akibat luapan Sungai Batang Masang, lebih dari 120 kepala keluarga atau sekitar 400 jiwa terpaksa kembali meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Air bah merendam pemukiman warga, termasuk kompleks perumahan karyawan PT AMP III. Kawasan yang berada di sepanjang aliran sungai itu kembali tenggelam, mengulang luka lama pasca jebolnya tanggul pengaman Sungai Batang Masang yang hingga kini belum tertangani secara permanen.
Saat ini, ratusan warga memilih bertahan di kawasan perkantoran PT AMP III yang berada di dataran lebih tinggi. Sebagian lainnya mengungsi ke rumah sanak keluarga, menjauh dari wilayah yang sejak akhir November lalu menjadi langganan banjir setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Sejak Senin malam kami sudah mulai mengungsi.
Kalau hujan deras, air cepat naik. Setelah tanggul jebol, kami selalu waswas,” ujar Shaerina Harapan, salah seorang warga terdampak yang kini mengungsi bersama 17 KK lainnya di kompleks perkantoran PT AMP III, Rabu (24/12).
Menurut Shaerina, kondisi banjir kali ini memperpanjang rangkaian bencana yang terus menghantui kawasan tersebut sejak banjir besar Kamis (24/11) lalu.
Saat itu, warga tidak hanya mengungsi ke AMP III, tetapi juga ke sejumlah titik aman lain, termasuk warga Jorong Anak Aia Kasiang, Nagari Bawan, yang dievakuasi ke Kantor KAN Bawan.
Meski demikian, ia menyebutkan bahwa bantuan mulai berdatangan. Manajemen PT AMP III telah menyalurkan bantuan permakanan bagi warga terdampak, sementara seluruh warga telah berada di lokasi pengungsian yang relatif aman.
Kondisi banjir susulan ini dibenarkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmad Lasmono. Ia mengatakan pihaknya telah menerima laporan kejadian dan langsung melakukan koordinasi dengan manajemen PT AMP Plantation.
“Penanganan sementara dilakukan bersama pihak perusahaan. Bantuan logistik sudah disalurkan, tidak hanya untuk karyawan tetapi juga warga sekitar,” jelas Rahmad.
Banjir di AMP III bukan sekadar peristiwa alam, tetapi potret rapuhnya ruang hidup warga di sepanjang Batang Masang. Setiap tetes hujan seakan membawa ingatan kolektif akan tanggul yang runtuh dan janji perlindungan yang belum sepenuhnya terwujud.
Di tengah deras air dan lumpur, warga kembali bertahan mengungsi, berharap, dan menunggu solusi yang mampu menghentikan siklus bencana yang terus berulang.(Bagindo)












