Lubuk Basung –Wartapatroli.com. Tidak semua duka mampu diucapkan dengan kata-kata. Sebagian hanya bisa dititipkan melalui nada dan doa. Itulah yang dilakukan Irwan Dinata Morano, perantau asal Lubuk Basung yang kini menetap di Jakarta, melalui lagu terbarunya berjudul Parmato Sarugo. Sebuah karya yang lahir dari luka terdalam seorang ayah, dan kini menggetarkan hati para penikmat musik Minang.
Dirilis melalui kanal YouTube IDM Minang Entertainment, Parmato Sarugo bukan sekadar lagu daerah. Ia adalah potret keheningan, kehilangan, dan cinta yang tak pernah usai. Sejak tayang, lagu ini langsung menyita perhatian publik karena kejujuran emosinya—murni, polos, dan terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang tua.
Lagu ini berangkat dari kisah nyata perjalanan hidup Irwan Dinata sendiri. Ia mengisahkan perihnya hati seorang ayah yang harus merelakan kepergian anak perempuan tercinta untuk selama-lamanya. Dalam setiap bait liriknya, tersimpan rindu yang tak terucap, penyesalan yang terpendam, serta kasih sayang yang tetap hidup meski sang buah hati telah tiada.
Irwan membuka kisah cintanya sebagai seorang ayah. Sang anak, yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, justru menjadi permata paling berharga dalam hidupnya. Tak ada sedikit pun rasa malu atau kecewa. Sebaliknya, kasih sayang yang ia berikan tumbuh berlipat ganda. “Cintaku kepadanya bahkan lebih besar dari cintaku kepada diriku sendiri,” demikian pengakuan Irwan yang tersirat kuat dalam lirik lagu ini.
Sebagai perantau, Irwan harus meninggalkan kampung halaman demi mengais rezeki. Sementara itu, sang anak gadis tinggal bersama ibunya di Lubuk Basung. Jarak dan waktu menjadi tembok sunyi yang membatasi kebersamaan mereka. Hingga suatu hari, takdir berkata lain. Sang anak dipanggil kembali oleh Sang Pencipta, meninggalkan duka yang tak terperi dan rindu yang tak pernah menemukan jawab.
Balutan musik Minang yang syahdu membuat Parmato Sarugo terasa seperti ratapan doa. Vokal Irwan Dinata yang lirih, seolah bergetar menahan tangis, mengalir pelan namun menghujam hati. Tak sedikit pendengar yang mengaku tak kuasa menahan air mata saat mendengarkan lagu ini, karena kisah di baliknya terasa begitu nyata dan manusiawi.
Secara harfiah, Parmato Sarugo berarti permata surga. Sebuah simbol betapa berharganya sosok sang anak di mata seorang ayah, sekaligus keyakinan bahwa ia kini telah tenang di tempat terbaik di sisi-Nya. Lagu ini menjadi pengingat bahwa cinta orang tua tidak pernah mati—ia hanya berubah bentuk, menjadi doa yang tak pernah putus.
Melalui Parmato Sarugo, Irwan Dinata tidak sekadar mempersembahkan sebuah lagu. Ia menitipkan kenangan, cinta, dan harapan. Lagu ini menjadi pelipur lara bagi siapa pun yang pernah kehilangan orang tercinta, khususnya para orang tua yang harus belajar ikhlas melepas buah hatinya.
Di akhir perilisannya, Irwan Dinata juga menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh kru yang telah mendukung lahirnya Parmato Sarugo. Ucapan khusus disampaikannya kepada Uda Era Darwis, Sexri Budiman, dan Abang Nover, yang menjadi bagian penting dalam mewujudkan karya penuh makna ini.
Kini, Parmato Sarugo bukan hanya lagu Minang. Ia menjelma menjadi doa yang dinyanyikan, tangis yang dilagukan, dan cinta seorang ayah yang abadi—melintasi jarak, waktu, dan kepergian.
https://youtu.be/KcDaMkukkLo?si=DLUyPopHzKHHlcZP&sfnsn=wiwspwaBerikut Lirik lagu ” Parmato Sarugo”
Matohari nan baru tabik
Kaba tibo mangguncang dado
Tangih nan indak ba aia mato
Badan nan ketek tabujua di pangkuan mandeh
Lalok lah nak , lalok lah nak
Piciangkan mato lipek kan tangan
Jo ka ikhlasan ayah antakan
Jo aia mato, jo aia mato ayah lalok an
Salamo nanko ayah jo mandeh
Mancurahkan kasiah jo sayang
Nyampang talupo ayah jo mandeh nak
Tolong maafkan yo nak
Namun cinto ayah jo mandeh
Indak talarai nan dek pusaro
Pai lah nak , pai lah sayang
Parmato sarugo
Tunggulah kami
Bao lah kami nak , ka taman sarugo .












