Tanah Datar, Wartapatroli.com —
Hujan deras yang turun tanpa jeda selama beberapa hari terakhir bukan sekadar membasahi bumi di sekitar Danau Singkarak, Sumatera Barat. Ia membawa amarah alam yang lama terpendam. Sungai-sungai yang bermuara ke danau meluap, memuntahkan banjir bandang yang menyeret luka lama: deforestasi.
Permukaan Danau Singkarak kini tak lagi biru.
Ia berubah menjadi hamparan kayu batang-batang pohon besar, potongan balok, dan sisa hutan yang tercerabut dari akarnya. Dari kejauhan, danau tampak seperti ladang puing, sunyi namun memilukan.
Video-video yang beredar luas di media sosial sejak Senin (29/12) memperlihatkan pemandangan itu dengan gamblang kayu menutup rapat permukaan danau, seolah alam sedang menulis pesan terakhirnya.
Di balik rekaman tersebut, terdengar suara warga lirih, pasrah, dan sarat kegetiran. “Ya Allah… Allahu Akbar…” kalimat itu berulang, bukan sebagai seruan heroik, melainkan doa di tengah ketidakberdayaan.
Jejak Manusia di Balik Murka Alam
Banjir bandang ini bukan semata bencana alam. Banyak warga meyakini, ini adalah akumulasi dari ulah tangan manusia. Informasi yang menyertai video-video tersebut secara terang menyebut adanya praktik penebangan liar dan deforestasi di kawasan hulu. Hutan yang seharusnya menjadi benteng penahan air, kini telah lama digerus oleh keserakahan.
Batang-batang kayu yang kini mengotori Danau Singkarak bukan kayu hanyut biasa. Ia adalah saksi bisu dari hutan yang ditebang tanpa kendali dan kini kembali “pulang” dalam wujud bencana.
Dua Nagari Terisolasi
Dampak paling nyata dirasakan oleh masyarakat sekitar danau. Dua nagari dilaporkan terisolasi akibat terputusnya akses darat. Jalan-jalan tak lagi aman dilalui, tertutup material banjir dan longsoran.
Dalam kondisi darurat, evakuasi warga terpaksa dilakukan melalui jalur air Danau Singkarak jalur yang ironisnya kini juga dipenuhi bahaya.
Aktivitas ekonomi lumpuh, nelayan tak bisa melaut, dan kehidupan sehari-hari warga terganggu. Lebih dari itu, ekosistem danau yang selama ini menjadi sumber penghidupan terancam rusak parah.
Tuntutan Keadilan Lingkungan
Warga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk tidak menutup mata. Mereka meminta tindakan tegas terhadap pelaku penebangan liar dan praktik perusakan hutan, tanpa tebang pilih. Penegakan hukum yang setengah hati, menurut warga, hanya akan mengundang bencana serupa di masa depan.
“Kalau hutan terus ditebang, danau akan terus menangis,” ujar seorang warga dalam video yang beredar.
Lebih dari Sekadar Pembersihan
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera melakukan langkah tanggap darurat membersihkan tumpukan kayu, memulihkan akses warga, serta memastikan bantuan logistik dan evakuasi berjalan optimal. Namun lebih dari itu, peristiwa ini menjadi alarm keras tentang urgensi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Danau Singkarak hari ini bukan hanya korban banjir bandang. Ia adalah cermin dari relasi manusia dengan alam relasi yang, jika terus diwarnai keserakahan, hanya akan melahirkan duka yang berulang.
(Tim)
