Oleh : Endrizal, S.Pd
Pengurus Mushalla Al Muchlishin Pasar Beringin Lubuk Basung
Langit Agam tahun ini terasa berbeda. Ia masih menyimpan jejak luka dari hari-hari yang pernah mengguncang bumi dan mengalirkan air bah yang membawa duka. Rumah-rumah yang dulu penuh tawa sempat berubah sunyi, jalan-jalan yang biasanya ramai sempat diselimuti kecemasan, dan hati banyak orang diuji oleh kehilangan.
Namun waktu terus berjalan. Di antara puing kenangan dan upaya bangkit yang perlahan, kini datang lagi sebuah momentum suci yang selalu dinanti umat Islam: Idul Fitri, hari kemenangan setelah sebulan menahan diri, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Tak lama lagi, gema takbir akan kembali menggema di langit Agam. Suaranya akan berbaur dengan angin malam yang membawa harapan.
Tetapi tahun ini, langkah kita mungkin lebih pelan, dan hati kita lebih dalam merenung. Sebab kita tahu, tidak semua saudara kita menyambut hari raya dengan keadaan yang utuh seperti sebelumnya.
Masih ada yang menatap bekas rumahnya dengan mata berkaca. Masih ada yang meraba ruang kosong tempat orang-orang tercinta pernah berada. Masih ada tanah yang belum sepenuhnya pulih dari luka alam.
Karena itu, Idul Fitri 1447 Hijriah seolah mengajak kita untuk merayakannya dengan cara yang berbeda: lebih sederhana, lebih bermakna, dan lebih menguatkan iman.
Barangkali tahun ini kita tak perlu gemerlap yang berlebihan. Tak perlu hiruk-pikuk pesta yang memekakkan telinga. Tidak harus ada dekorasi yang mencolok atau kemeriahan yang melupakan rasa empati.
Cukuplah suara takbir yang menggema dari mushalla dan masjid, mengalun lembut menembus malam.
Cukuplah tangan-tangan yang saling berjabat dengan tulus. Cukuplah pelukan hangat yang mengatakan bahwa kita masih ada satu sama lain.
Sebab sesungguhnya, kebahagiaan Idul Fitri bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada siapa yang masih berdiri di sisi kita.
Idul Fitri tahun ini bukan hanya kemenangan setelah menjalani puasa Ramadhan. Ia juga menjadi kemenangan setelah kita bersama-sama melewati ujian kehidupan. Kemenangan atas kesabaran, ketabahan, dan harapan yang tak pernah padam.
Dari luka-luka itulah kita belajar bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Dari kehilangan itulah kita memahami betapa berharganya kehadiran. Dan dari doa-doa yang terangkat setiap malam Ramadhan, kita percaya bahwa masa depan akan kembali menemukan jalannya.
Di bawah langit Agam yang pernah menangis, kini perlahan tumbuh harapan baru.
Mari kita sambut Idul Fitri dengan hati yang teduh, dengan syukur yang dalam, dan dengan tekad untuk saling menguatkan. Sebab di balik kesederhanaan itulah, kemuliaan iman justru menemukan maknanya yang paling hakiki. Taqabbalallahu minna wa minkum.
Kami, Endrizal, S.Pd bersama Jemaah Mushalla Al Muchlishin Pasar Beringin Lubuk Basung, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menguatkan hati-hati yang sedang diuji, dan memberi kita kekuatan untuk membangun hari esok yang lebih baik. (*)












