BELITUNG,Wartapatroli.com – Ribuan masyarakat penambang bijih timah mendatangi Kantor PT Timah dan Gudang Bijih Timah (GBT) PT Timah di Kabupaten Belitung Timur, Jumat (7/8).
Kedatangan massa tersebut dipicu keresahan masyarakat menyusul terhentinya aktivitas pembelian bijih timah hasil tambang masyarakat dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi itu membuat hasil tambang yang telah diproduksi masyarakat tidak dapat segera dipasarkan. Terhentinya transaksi di tingkat bawah juga berdampak terhadap pendapatan masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas pertambangan timah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, terhentinya pembelian tersebut terjadi setelah adanya penindakan hukum terhadap sejumlah kolektor bijih timah.
Kondisi itu disebut membuat sebagian kolektor lainnya memilih menghentikan sementara aktivitas pembelian karena khawatir menghadapi persoalan hukum.
Akibatnya, bijih timah hasil tambang masyarakat mulai menumpuk dan tidak terserap sebagaimana biasanya.
Persoalan semakin rumit karena PT Timah disebut belum dapat menyerap seluruh produksi masyarakat.
Proses penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masih berlangsung, sementara kapasitas penampungan di Gudang Bijih Timah (GBT) juga terbatas.
Situasi tersebut menempatkan masyarakat penambang dalam kondisi sulit. Di satu sisi, aktivitas pembelian oleh kolektor terhenti, sementara di sisi lain hasil tambang masyarakat belum sepenuhnya dapat diserap oleh PT Timah.
Penghasilan Masyarakat Terancam Terhenti
Bagi masyarakat penambang, terhentinya pembelian bijih timah bukan sekadar persoalan perdagangan komoditas, tetapi menyangkut keberlangsungan ekonomi keluarga.
Sejumlah masyarakat mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak adanya pemasukan dari hasil penjualan bijih timah.
Kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, cicilan dan kebutuhan lainnya tetap harus dipenuhi meski hasil tambang belum dapat dijual.
Berdasarkan pantauan Wartapatroli.com dilapangan Jum’at (7/8) dalam aksi tersebut, masyarakat meminta adanya kepastian terkait mekanisme pembelian bijih timah hasil tambang masyarakat.
Mereka juga meminta pemerintah, aparat penegak hukum dan PT Timah duduk bersama mencari solusi atas persoalan yang terjadi.
Masyarakat berharap aktivitas pertambangan yang dilakukan sesuai ketentuan memiliki kepastian hukum, sekaligus tersedia jalur penyerapan hasil produksi yang jelas.
Minta Solusi dan Kepastian Pembelian
Masyarakat meminta pemerintah tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Mereka menilai kepastian mekanisme pembelian sangat penting untuk menjaga roda perekonomian masyarakat penambang di Belitung Timur.
PT Timah juga diharapkan memberikan penjelasan mengenai kondisi penyerapan bijih timah masyarakat, kapasitas Gudang Bijih Timah serta mekanisme pembelian selama proses penyesuaian RKAB berlangsung.
Masyarakat menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan hanya penjelasan, melainkan solusi konkret agar bijih timah yang telah diproduksi tidak terus menumpuk tanpa kepastian pasar.
Jika kondisi tersebut tidak segera mendapatkan solusi, masyarakat khawatir tekanan ekonomi semakin meluas dan dapat memicu kembali aksi masyarakat dalam jumlah yang lebih besar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari PT Timah maupun pihak terkait mengenai tuntutan dan kondisi pembelian bijih timah masyarakat tersebut.(Tim)




