Oleh : Yusra Wafilma
Pemred : Wartapayroli.com
Di bawah langit Agam yang sering diguyur derasnya hujan, dimana sebuah harapan pernah tumbuh diam-diam, seperti doa yang dipanjatkan tanpa suara.
Saat pasangan Benni Warlis dan Muhammad Iqbal dilantik, sebagian nahkoda negeri berlambangkan harimau duduk ini masyarakat percaya, akan ada perubahan, kearah yang jauh lebih baik dari sebelumnya, berharap akan ada jalan yang diperbaiki, akan ada secercah cahaya yang akan kembali menyala di sudut-sudut ibu kota
.
Namun hari ini, dua tahun sudah berjalan harapan itu seperti berjalan pincang, yang membuktikan bahwa semua janji dak komitmen yang dulu diucapkan hanya kamuflase semata.
Salah satu ketimpangan terlihat pada Pelantikan para pejabat dan kepala sekolah di masjid yang semestinya sakral justru menyisakan tanda tanya besar, ini bukan soal tempat semata, tetapi tentang kebijaksanaan yang dianggap tidak tepat.
Banyak kalangan menilai apakah keputusan itu lahir dari pemahaman yang utuh, atau sekadar ingin membungkus kekuasaan dengan simbol religius…?
Dalam sunyi, pertanyaan itu menggema seiring pemahaman dan akidah serta pemahaman yang sebenarnya, bagaimana jika di antara pejabat yang dilantik itu ada perempuan yang sedang dalam keadaan “Haid” yang oleh syariat tak diperkenankan memasuki rumah ibadah..?
Apakah kesucian tempat ibadah dijaga, atau hanya dijadikan latar untuk legitimasi..? Sementara itu, di luar dinding masjid, kenyataan berbicara lebih jujur.
Jalan-jalan berlubang seperti luka lama yang tak pernah diobati, yang berdampak pada setiap kendaraan yang melintas seakan mengaduh pelan, memanggul kelalaian yang terus dibiarkan.
Lampu-lampu jalan dibeberapa sudut kota padam satu per satu, dan malam pun terasa lebih panjang dari biasanya, gelapnya bukan hanya karena tiada cahaya, tapi karena harapan yang meredup oleh buruknya kinerja pemimpin.
Di sudut-sudut kota, sampah menggunung yang bukan sekadar limbah, tetapi simbol dari sistem yang tak terkelola dengan baik, Bau yang menyengat itu seperti peringatan ada yang sedang tidak beres.
Dan ketika api datang mengamuk, yang seharusnya menjadi garda terdepan justru kehilangan daya seperti asa satu keluarga di koto gadang tanjung raya yang tenggelam bersama armada pemadam kebakaran yang kehabisan BBM.
Sebuah ironi yang terlalu pahit untuk dicerna. Di saat detik menentukan antara selamat dan kehilangan, yang hadir justru ketidak berdayaan.
Hujan pun tak lagi sekadar rahmat. Ia berubah menjadi ancaman. Pusat kota tergenang, seolah-olah Agam tak pernah benar-benar belajar dari banjir yang berulang. Air mengalir membawa tanya di mana perencanaan..? di mana kepedulian..?
Lebih mirisnya lagi di ruang-ruang kekuasaan, cerita lain berhembus pelan, dimana Katering dan snack anggota dewan hal kecil yang mestinya sederhana yang sebelumnya menjadi harapan para pelaku usaha kuliner menengah dikabarkan kini dikuasai oleh lingkaran yang dekat dengan kekuasaan.
Aroma kepentingan itu samar, tapi sangat terasa, sementara sebagian beberapa oknum anggota dewan justru jarang terlihat di kantor, yang mana seolah tanggung jawab sebagai wakil rakyat dengan fungsi pengawasan bisa ditunda, dan amanah bisa dinegosiasikan.
Di tengah semua itu, bergulir isu memalukan tetkait pengadaan kendaraan dinas menjadi sorotan. Ketika rakyat berjuang dengan jalan rusak dan fasilitas minim, roda kekuasaan justru berputar dengan kendaraan baru dengan sebuah kontras yang menyesakkan.
Ini bukan sekadar kritik. Ini adalah kegelisahan yang mencari tempat untuk bersuara, Penulis menilai, Agam tidak kekurangan kata-kata indah, tidak pula miskin simbol, yang kurang adalah keberanian untuk benar-benar bekerja, untuk menyentuh persoalan dari akarnya.
Sebab pada akhirnya, kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sakral panggungnya, tetapi seberapa nyata dampaknya.
Selanjutnya di antara hujan yang jatuh satu per satu, masyarakat hanya bisa berharap semoga yang retak ini tidak dibiarkan menjadi runtuh.
Semoga Para pemegang tanggung jawab dan amanah dari rakyat tersentak dan menimbulkan kembali rasa memiliki terhadap negeri ini dan Agam jauh lebih baik ke depan, Wassalam.(*)












