Oleh : Endrizal, S. Pd
Di bawah langit tepian Danau Maninjau yang tenang, di tanah yang subur, namanya akan selalu dikenang. Beliau adalah Bapak H. Bachtiar Chamsyah, Datuak Marajo Nan Sati. putra nagari yang pergi merantau, menapaki jalan panjang, lalu membawa nama Maninjau harum ke seluruh penjuru negeri.
Meski lahir di tanah Aceh, pada 31 Desember 1945, darah Minangkabau dari orang tua asal Bayua, Tanjung Raya, Agam, mengalir deras di nadinya. Beliau menamatkan SMA di SMA Negeri Maninjau pada tahun 1964, tempat di mana cinta pada ilmu dan nagari mulai tertanam kuat.
Merantau ke Medan, tumbuh dalam organisasi HMI, menjadi Ketua Cabang Medan dan Ketua Badko HMI Sumut, membentuk karakternya : teguh, berbakti, dan memihak pada yang lemah.
Selama 8 tahun memimpin Kementerian Sosial, beliau berjuang tanpa lelah, memperluas jaring perlindungan sosial, menanggulangi kemiskinan, menyalurkan bantuan bagi korban bencana, dan memastikan tak ada warga yang tertinggal sendirian.
Di tengah riuhnya ibu kota, di antara beratnya urusan negara, hati beliau tak pernah lepas dari Maninjau. Setiap pulang ke kampung, senyumnya tetap sederhana, tutur katanya tetap santun. Gelar Datuak Marajo Nan Sati bukan sekadar nama, melainkan bukti: beliau dihormati bukan karena kekuasaan, melainkan karena kerendahan hatinya.
Berpulangnya Sang Pejuang :
Pada 24 September 2026, di usia ke-80 tahun, Bapak H. Bachtiar Chamsyah berpulang ke rahmatullah di RSCM Jakarta. Langit Maninjau seolah merunduk; angin dari Kelok 44 seolah membawa bisik perpisahan. Namun air mata tak boleh berubah menjadi keputusasaan, karena beliau mengajarkan “hidup adalah tentang memberi, bukan menerima”
Warisan yang Abadi :
Beliau mengajarkan : Meski pergi jauh, jangan pernah lupa dari mana kau berasal.
Beliau membuktikan : Anak nagari bisa duduk di kursi tertinggi, namun tetap merendahkan hati.
Beliau mencontohkan Mengabdi kepada rakyat adalah ibadah yang paling mulia.
Kini beliau telah pergi untuk selamanya. Bukan lagi berkunjung sejenak lalu pergi kembali. Kini Bapak H. Bachtiar Chamsyah beristirahat di pangkuan tanah yang dicintainya. Tak ada lagi jauh, tak ada lagi lelah memikirkan nasib rakyat.
Tinggal kenangan yang abadi, teladan yang diwariskan, dan doa yang mengalir tak putus dari kami, putra-putri Maninjau yang ditinggalkan.
Kami berjanji tak akan melupakanmu. Semangatmu mengabdi, kerendahan hatimu, cintamu pada nagari.
Itulah warisan paling berharga yang Bapak tinggalkan. Langit boleh merunduk hari ini, dan danau boleh menahan air matanya, namun namamu akan tetap bersinar terang, bagai cahaya senja yang tak pernah lelah memeluk permukaan danau ini setiap petang.
Selamat jalan, urang tuo kami. Selamat jalan putra terbaik Maninjau. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf mu, menerima seluruh amal kebajikanmu, menempatkan mu di tempat yang paling mulia di sisi-Nya, dan menyatukan kami kelak di surga-Nya yang kekal.(*)












